Assalamu'alaikum ya akhi wa ukhti

Waktu tak akan pernah memberimu nasihat. Hari tak akan memberimu peringatan. Dunia hanya alam mimpi...
Akhirat adalah alam sadar...
Sedangkan di tengahnya ada maut... dan kita sekarang sedang bermimpi.

kenapa???

21.49.00 Posted In 0 Comments »
why?

rohis taon ni kayaknya lebih ancur.
masa' gak da 50 % program terjalankan dgn baik. mending waktu dulu lie masih jadi sekretaris, ya walaupun ketua kami dulu ja...uh lebih menjengkelkan dari ketua yang sekarang.

kalau menurut lie sih...
kekurangan ketua yang sekarang ntu cma karne dia gak bisa memenegement waktu.
kalau masalah pengetahuannya....
mungkin itu bisa di gali.

yang keselnya lagi....
hari jum'at lalu, gak da satupun yang dateng ke acara kamus. sebel gak sih???

trua lie juga dah crita gitu ma salah satu anggota rohis.
katanya...
sejak ketua membatalkan rapat waktu itu... mereka jadi males untuk hadir ke acara rohis.
seharusnya waktu itu dy gak pergi. seharusnya dy tetep ngumpulin mereka dan bicara apa yang perlu di bicarakan.

duuuh...
cemana seh ketuanya??? masa' anggota ngambek di biarin aja...
sapa sih ketuanya??? he...he...he...

tapi gak bisa mutlak menjadi kesalahan ketua juga...(eits... bukannya lie mau ngebelain ya...)

ya...
itu mua dah terlanjur.
teori apapun gak bakalan bisa mengubah waktu yang dah lalu.

intinya gini aja...
"tebus kesalahan"
dengan mengundang mua anggota rohis dan jangan malu untuk mengungkapkan kesalahan. minta maaf la...

atau paling gak dy membutuhkan rasa percaya diri ntuk lebih dekat dengan mua anggota, bukan malah di cuekin dan merasa mereka telah jauh.
justru kalau dy berani bersikap hangat ma semuanya, kebekuan itu akan mencair.

tolooong...
jangan biarkan rohis ini lumpuh tak berdaya.

satu-satunya senjata rohis cuma ada buletin. itu pun ntah cmana kabarnya.
koq muanya pada kajol gene sih???

ingin rasanya lie bantu ketua untuk menyelesaikan masalah ini. tapi itu gak mungkin, lie bukan pengurus lagi, lie gak mau da gosip2 aneh lagi.
tapi kayaknya lie ga tahan kalau harus diam sementara dy kesulitan.

gimana neh???
gimana caranya gar bisa berkecimpung dalam organisasi ini lagi???

secerca cahaya

21.40.00 Posted In 0 Comments »
Kubiarkan jemariku menari di atas keyboard membentuk rangkaian kata di percakapan maya. Indah, seindah khayalanku.
Ah…aku tak peduli berjuta pasang mata menatapku heran. Yang penting aku pengen chatting di warnet Bang Amin. Lagu-lagu dari winamp-nya itu terus berbunyi walau sebenarnya, suerrr!!! aku lagi nggak mood.
Yang penting aku lagi pengen ngumpulin kekesalanku di dunia maya, tak peduli hari sudah sore.
“Woii….Ifad….gak pulang?” teriak si Fahri di seberang jalan. Dia satu-satunya teman dekat rumahku.
“Duluan aja deh. Bilang ke orang rumahku, jemput aku setengah jam lagi di sini.” Repot-repot amat. Kerajinan! Aku mo pulang cepat, pulang lama, mo ini-itu, itu kan urusanku. Sama sekali tak merugikannya.
“Lho….Ifad nggak pulang? Dari tadi melototin komputer apa nggak capek?”
“Nggak.”
“Udah hampir maghrib. Emangnya Ifad gak sholat?”
“Sholat? Males…ah! Sholat itu gak boleh kalo gak ikhlas alias terpaksa.
“Lagian, udah tahu mo maghrib, ngapain kamu datang ke sini? Apa kamu nggak sholat?” Aku malah balik bertanya.
“Kalau aku wajar gak sholat, Fad. Lha wong dari dulu aku gak pernah diajarin sholat.”
“Apa coba bedanya sama aku?”
“Ya jela sbeda. Aku berasal dari keluarga yang amburadul, sedangkan kamu berasal dari keluarga alim. Ayahmu ustadz, ibumu…”
“Kamu gak ngerasain, Kawan…! Sambarku kemudian. “Ah…gak usah dibahs lagi deh, males aku!” mungkin dia tak lagi mendengarkanku. Dia telah hanyut dalam khayalannya.
Huh…! Ngapain tuh orang pake bawa-bawa nama Ayahku segala. Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya tuh anak. Aku anak seorang ustadz, tapi kenapa hidupku hanya kuhabiskan untuk hal-hal yang nggak penting? Entahlah…Ayahku sendiri gak peduli denganku. Dia hanya sibuk menceramahi orang kesana-kemari. Keluarganya? Omong kosong!
Dugaanku meleset. Setelah diinterogasi akhirnya aku diskors dari rumah, gak boleh pulang selama hari. Malangnya, aku harus tetap masuk sekolah tanpa uang saku dan bekal apapun. Bodo’ ah…! Emang gue pikirin?! Yach…anggap aja ini hadiah buatku. Hadiah bahwa aku boleh ninggalin rumah selama 3 hari dengan izin resmi. Itu artinya, apa yang kulakukan ini legal belaka. Kan jadi nggak seperti maling?!
Wow..payah!!
Assalamu’alaikum Lilis, eh Mbak Lilis.” Merah padam juga mukaku. Malu. Sepeda dan tas ransel hitam di keranjangnya telah ada di dekatku. Dengan supit tentunya. Siapa lagi kalau bukan Mbak Lilis, si Manis yang namanya cukup tenar di sekolahku.
“Ngapain di sini, Fad? Nggak pulang?”
“He…he…he…ini mbak, mau mojok dulu.” Jawabku konyol.
Kulirik wajah mbak Lilis dan berharap dia mara dengan jawabanku tadi. Sial…dia cuma senyum dengan tenang bak telaga jernih yang menyejukkan.
“Kalo gitu nanti sore datang ke rumah. Ada ta’lim remaja.”
Wah…ini sih bala beneran.
Ke rumah Mbak Lilis sama dengan pergi ke mesjid. Itu artinya aku akan kehilangan kesempatanku untuk ngobrol di alam maya.
Ah…sial. Entahlah, terserah!!
“Ya mbak, nanti saya ke sana.” Jawabku tak ada pilihan lain.
Yach.., muslimah satu ini dengan kesederhanaannya yang luar biasa membuat makin bersahaja. Walau kadang bikin aku tak mengerti dan geleng-geleng kepala. Gimana tidak, di kemegahan gedung sekolahku, sekian siswa naik turun mobil di depan gerbang. Bahkan bawa motor sendiri-dengan tak dan aksesoris keren yang cocok dengan atribut siswa. Ee…Mbak Lilis malah bawa sepeda dan tas ransel yang gede, mirip orang mau camping. Di sama sekali nggak malu memarkirkan sepedanya di antara jajaran motor. Dan nggak pernag minder dengan teman-temannya yang pada megang hape hightech, padahal ia sama sekali gak punya, boro-boro hightech, tipe doeloe aja gak pernah nyentuh. Ya…bisa disimpulkan kalau Mbak Lilis berekonomi menengah ke bawah.
Ah…entahlah, susah-susah mikirin.
Terserah!! Itu semua urusan Mbak Lilis, urusanku adalah entar sore memenuhi undangannya sambil mencari siasat agar tak kehilangan kesempatanku. Chatting!!
***
Salah siapa kalau selama diskors aku harus tinggal di warnet Bang Amin? Salah siapa coba kalo sekolahku berantakan? Salah siapa kalo aku ikut terjerat dalam kasus kriminal? Salah siapa?!
Jangan kaget kalo aku sekarang jadi berandalan. Karena itulah yang bisa aku lakukan untuk mengisi perutku.
Persetan dengan ibadah. Toh selama ini aku memang tak menjalankan perintahNya. Tak menjadikanNya sebagai teman dalam keruwetan. Temanku adalah chatting, chatting, dan chatting. Apakah itu artinya aku telah mengafirkan diriku sendiri? Ah…entahlah, terlalu jauh pikiranku. Suer, sepulang dari rumah Mbak Lilis aku jadi mikir dan mikir. Ketika dia memapah ibunya yang sudah tua, menyiapkan pacitan di dapur, mengurusi kedua adiknya yang masih kecil-kecil, dan ketika Mbak Lilis menyambut tamunya dnegan ramah. Ketika ada pengemis yang datang ke rumahnya, dia dengan ringannya mengeluarkan selembar uang yang mungkin itulah uang terakhirnya. “Kok bisa?”
Orang secantik dia, orang sesederhana dia, orang setenar dia. Aku sangat terkejut ketika di sekolah ia lupa dengan ulang tahun temen akrbanya. Waktu itu ia lagi sibuk. Ketika dia ingat, di langusng menepuk jidadnya dan beristighfar. Kulihat titik bening penyesalan di sudut matanya yang kebetulan waktu itu aku tengah berada persis disampingnya.
Benar-benar sebuah pancaran cahaya. Cuma aku tak tahu memancar ke mana cahaya itu. Benar kok, itu cahaya, namun entah kenapa aku tak tahu dan tak mengerti dan sehingga…..akupun tak mampu menangkapnya. Akibatnya?! Aku sering bolos sekolah, ngabisin uang hanya untuk nonggok di warnet Bang Amin dan….ah, entahlah. Aku bingung. Aku sangat bertolak belakang dengan Mbak Lilis. Padahala dilihat dari segi latar belakang kehidupan, aku jauh lebih beruntung seharusnya.
***
Masa skorsku udah abis. Tapi kakiku masih berat untuk kembali ke rumah. Ada setitik dendam dalam hatiku. Entah pada siapa, aku tak mampu melukiskannya. Akhirnya aku minta izin sama Bang Amin untuk tetap tinggal di situ selama beberapa hari lagi.
“Fad…kamu gak ikutan seleksi karate hari ini?” Fahri menghampiriku dnegan pakaian lengkap mirip seperti tokoh-tokoh Jepang kalau ingin latihan.
“Tau’ ah…! Lagi gak mood!”
“Ini kesempatan baik lho, Fad. Kau bisa keliling Indonesia kalo kau menang. Btw, masa skors dah abis kan? Napa gak pulang ke rumah aja?”
“Bukan urusanmu!!” Aku ngeloyor begitu saja.
“Ifad…Fad..tunggu!!” Teriakan Fahri tak kuhiraukan lagi. Aku melangkah cepat tanpa tujuan yang pasti.
Sejenak kupandangi mushollah yang kokoh di belakang sekolah. Ramai. Banyak siswi berkerudung duduk di sana. Rupanya mereka ada ta’lim rutin.
“Mbak Lilis?” aku terkejut dengan apa yang kulihat. Mbak Lilis tengah dudu di antara kerumunan kerudung putih. Dia yang mengisi ta’lim itu.
“Hidup itu apa, aku ini siapa, dan harus bagaimana?” sayu kudengar suaranya.
Hidup? Aku penasaran. Kakiku melangkah mendekati arah suara. Duduk di balik rimbun pohon jambu.
“Hidup ini sementara. Hidup hanyalah suatau masa tertentu yang diberikan oleh Allah kepada kita hamba-Nya. Jadi kita hanya hamba yang diberikan jatah hidup untuk berbakti, untuk beribadah kepadaNya. Cukup sederhana-dan untuk itulah Al Qur’an dan Rasul diturunkan.” Panjang lebar penjelasan itu.
Nyes, sejuk pikiran dan hatiku. Aku tersentuh dan menguaplah kebingunganku.
Bukankah Wama kholaqtul jinna wal insa illaliya’buduun?!
Bodohnya aku, yang Cuma hafal nmun tak paham. Bodohnya aku yang cuma sering mendengar tapi tak mengerti. Bodoh…..bodoh sekali.
Aku tercenung sedemikian lama. Tak lagi ingat bahwa aku tengah uduk di bawah pohon. Dan tak menyadari di hadapanku ada puluhan mata menatapku. Dengan teratur seiring nafasku, bergulir buliran bening.
Semua telah terjawab. Baru kini aku menikmati hidup dengan kenikmatan yang luar biasa dan baru tahu apa artinya hidup.
Alhamdulillah. Aku telah mampu menangkap cahaya itu. Cahaya yang terpancar ke seluruh celah sudut hatiku.
D_Lye

tak seorangpun

21.11.00 Posted In 0 Comments »
tak seorangpun...
yang dapat mengerti kerlingan itu
bercahaya di tengah samudera kelam

dan tak seorangpun...
tau...
betapa ku sangat tertawan
oleh kerlingan itu

tak seorangpun...
tak seorangpun...
tak seorangpun...

hore....

21.10.00 0 Comments »
ya, aku dah perberui blog dengan warna yang ku suka. HIJAU.

bete bgt sih...

20.53.00 Posted In 0 Comments »
libur...
ntah apa yang bisa di kerjakan di rumah
kerjaannya itu-itu...melulu...
bosen kayaknya.
dari bangun tidur jam 04.30, biz tw beresin kamar, shalat shubuh.
mulailah kegiata awal: bikin empink.
ampe' jam 7 baru siap.
sarapan, dan nganter keripik ke koprasi sekolah.
tyuz, pulang diri sana...
beres2 rumah, nyuci piring, masak. mua nya baru ciap sekitar jam 10 atau 10.30.
bis tw, duduk2 di rumah,,, tidur2an,,, makan,,,

abis sholat zuhur, tidur siang ampe' jam 2, kadang2 ampe' jam 3.

sore...
ngangkat jemuran, nglipetin pakaian, dan beres2 rumah lage,....


ah, pokoknya bosen lah di rumah z.
paling sesekali pigi kwarnet.

pengennya sih mau cari kerjaan...
tapi apa?
ya... mungkin ngajar les di rumah. tapi gak da yang bisa pagi, mua pada minta sore tao malem. mana bisa?

tapi, kalau dipikir2... inilah saatnya aku berbakti ma umi. soalnya dulu waktu skul...
aku sering pulang sore, dan jarang bantu2 di rumah...

ya,,, itung2 ngrekap kerjaan yang dah lalu.

ntahlah

21.54.00 Posted In 0 Comments »
sebenernya ku gak mau ninggalin kota pakam ini. tapi mau gimana lagi, aku sama sekali gak bisa nolak kalau nanti aku di jemput. katanya sih, aku mau di jemput bulan ini. tapi masih gak jelas
ih... gak kebayang deh tinggal di pekan baru. panasnya kayak pa ya...???

ntahlah, mereka terlalu baik pada ku. tiap minggu aku di kasi pulsa. paling dikit 20rb. mereka pengen benget aku tingal disana meskipun hanya beberapa minggu.

yah.
liat nanti lah,,,
kalau aku jadi kesana, aku kasi tau kalian semua.
tunggu info selanjutnya

Mif

20.53.00 Posted In 1 Comment »
Mif!
ku tau itu namamu
sejak pertama kali kau menginjak gedung itu
tepat dua tahun lalu

Mif!
aku hanya tau bahwa itu namamu
tapi ku tak pernah mengenalmu
sama sekali

Mif!
mereka memanggilmu saat ku terdiam
mungkin hanya canda
atau sekedar kebetulan

Mif!
mereka memanggilmu
saat ku berjalan jauh darimu

Mif!
lagi
mereka memanggilmu kembali
saat ku berlari di hadapanmu

Mif!
lagi...
lagi...
dan lagi...

ini bukan lagi canda
atau sekedar kebetulan

ntah apa maksud mereka memanggilmu
dihadapanku
aku sama sekali tak menegerti

satu hal yang ku tau...

Mif!
itulah namamu
Lakukan apa yang bisa kamu lakukan hari ini.
dan jangan pernah menanti hari esok, kerena mungkin dia tak akan menghampiri kita